Simple is Successful 08/03/2011
Kompleksitas hidup dewasa ini umumnya disebabkan oleh ulah orang itu sendiri. Berencana rinci sekali sampai jangka puluhan tahun ke depan, sementara orang tidak tahu kapan dia dipanggil menghadap. Orang berusaha menghindari rutinitas dengan merencanakan acara refreshing ke luar negeri, ke gunung, ke pantai, ke tempat-tempat baru yang konon biar tidak jenuh. Padahal ritme default orang hidup adalah siklikal. Tidur bangun tidur bangun, dst. Makan, berak, makan, berak, dsb. Minum, pipis, minum, pipis, dsb. Rutinitas adalah default orang hidup. Rutinitas itu sederhana. Rutinitas menjadi indah dan sederhana. Kesederhanaan itu kesuksesan. Mengambil secukupnya saja. Makan secukupnya saja. Membeli secukupnya saja. Membawa secukupnya saja. Tidak berlebihan. Simpel, sederhana. Namun kebanyakan kita lupa, merasa seakan kita kekal abadi di sini sehingga rela mengorbankan harga diri untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya beban, kalau perlu agar bisa dibebankan sampai tujuh puluh keturunan mendatang. Senangnya kalau aku mendengar pak ustadz bercerita tentang kisah kehidupan kanjeng nabi atau para sahabat dan orang-orang alim jaman dulu. Mereka begitu sederhana dan bekehidupan fokus. Mereka punya fokus yang jelas. Perjalanan hidup mereka amat sederhana, namun memberi bekas pelajaran mendalam bagi orang-orang setelah mereka. Cerita ini kontras betul dengan hiruk pikuk orang-orang masa kini. Setiap saat selalu ada saja yang direpotkan dan dipersoalkan padahal kalau dilihat dari kacamata orang-orang jaman dulu, kerepotan mereka dan masalah mereka adalah hampir sebagian besar adalah akibat ulah mereka sendiri. CommentsLeave a Reply |
اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
RSS Feed