Rutinitas memperpanjang Surat Ijin Mengemudi SIM di SIM Corner Ambarukmo Plaza Yogyakarta 07/27/2011
Kami datang dan tiba di sana tepat pukul 12 siang. Begitu sampai di depan stand gerai sim corner polri di Ambarukmo Plaza Lantai dua (2nd floor, kalau tidak tahu tanya saja ke Pak Satpam) Jalan Laksda Adisucipto Jogja Yogyakarta, kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, dan kami hanya melihat tulisan jam istirahat 12-13. Sehingga kami undur dari gerai untuk ke lantai paling atas, masjid, untuk shalat dhzuhur. Selesai salat kami makan frech fraiz (baca, kentang goreng). Selesai sekitar jam 12.40, kami kembali ke sim corner. Kami lihat di sana sudah bergerombol orang pada mengantri. Lagi-lagi kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Jam 13 lebih sedikit para petugas pada berdatangan. Jam 13.15 kami masih belum tahu apa yang harus kami lakukan. Penasaran, kami bertanya kepada salah seorang polwan. DIa jawab agar kami mengantrikan fotokopi ktp dan sim lama di sebuah baki, sisi sebelah kiri kalau kita menghadap ke stand sim tersebut. Walah rek, baru tahu kalau harus mengantrikan fotokopi di sana. Sampai di baki ternyata memang sudah ada tumpukan antrian fotokopi. Kok kami tahunya tidak tadi-tadi ya, waktu kami datang jam 12 siang tadi. Kalau saja kami tahu, tentu antrian kami tidak belakang-belakang. Selesai itu seorang petugas memanggili pengantri berdasarkan mekanisma LIFO; bukan LIFO tapi FIFO (First In First Out). Kami akhirnya dipanggil oleh Bu Polwan, yang kelihatannya lagi hamil. Sampai di situ kami diberi map dan secarik formulir. Berkas kami bawa meminggir untuk kami isi, lalu berkas itu kami antrikan di tempat periksa kesehataan. Beberapa saat kemudian kami dipanggil, kami ditensi dan dibobot (dikiloi, timbang) oleh seorang mbak perawat apa ya. Antri lagi untuk periksa dokter. Selesai itu kami dipanggi lagi lalu masuk ke sebuah bilik bu dokter. Di bilik, bu dokter sudah siap dengan huruf-huruf cicak, ada sekitar 6 apa 8, lupa, yang dalam urutan makin lama makin sulit. Selesai dikasih teka-teki huruf cicak, kami dimintai uang 30ribu rupiah, untuk ongkos periksa kesihatan kali. Selesai itu, berkas kami bawa ke bilik BRI di situ juga untuk membayar ongkos pembuatan SIM apa ya., sebesar 75ribu rupiah. Kami dapat kuitansi dan nomor antrian 116. Semua berkas ini, termasuk SIM lama kami masukkan ke dalam sebuah map yang dia pinjamkan tadi waktu pembagian formulir. Selesai itu berkas kami antrikan ke bagian pencatatan. Waktu tunggu terlama adalah menunggu pemotretan. Kami harus menunggu 40 an orang. Masuk di bilik potret, biasa Mas Polisi membacakan data kami, dari nama, alamat, dsb. Kalau ada yang salah, harap protes di sini, biar sim kita nanti benar. Pertama, tanda tangan di kotak. Awas, tandatangannya harus dibuat sebesar-besarnya asalkan tetap berada di dalam kotak yang sudah disediakan. Soalnya, punya kami kekecilan, karena tidak tahu kalau begini. Selesai tanda tangan, pindai sidik jari jempol kanan, lalu diambil gambar. Keluar lagi menunggu sejenak, SIM sudah bisa diambil di bilik sebelah, sambil mencatatkan diri di buku pengambilan SIM. Total waktu adalah sekitar dua jam, yakni dari jam 1 siang sampai jam 3 sore. Berbicara soal ongkos, bagi kami lumayan murah wong cuma 75 ribu untuk jasa pembuatan SIM dan 30 ribu untuk jasa periksa buta huruf oleh dokter dan timbang dan tekanan darah oleh juru rawat. Kami tidak tahu kalau bagi penduduk pada umumnya. Hanya saja kami ketawa-ketawa sendiri, kami merasa bahwa tradisi seperti ini adalah tradisi yang bisa saja disepakati untuk tidak diselenggarakan. Wong cuma naik sepeda motor saja kok ndadak harus pakai SIM C yang setiap lima tahun sekali harus diperpanjang. Tapi lagi-lagi ya, kalau dipikir-pikir ya biar ada polisi lah, biar ada mekanisme legal dan halal untuk proses pemberian sumbangan uang dari masyarakat kepada para polisi dan dokter/perawat. Lha kalau dipikir agak medalam, intinya kan cuma main-main itu. Wong cuma dikasih tebak-tebakan baca huruf cicak kok ditarik uang 30ribu rupiah. Juga untuk yang 75 ribu itu. Yang jelas, biar berpahala, diniati saja uang tersebut untuk sedekah kepada polisi dan dokter/perawat. Bagaimanapun juga, mereka adalah bagian dari kita yang memerlukan perhatian dan bantuan dari kita semua. Tapi nanti kalau jaman sudah canggih, mungkin saja upacara semacam ini sudah tidak diperlukan lagi dan sudah dianggap upacara yang primitif. Commentsjojo 10/23/2011 13:12:04 Pikiran anda terlalu dangkal bung, ya memang jika dipikir itu hanyalah rutinitas 5 tahunan yang membosankan dah sepertinya memang tidak perlu dilakukan oleh anda yang notabene "Wong cuma naik sepeda motor saja kok ndadak harus pakai SIM C yang setiap lima tahun sekali harus diperpanjang.", cuma naik saja kan? bukan mengendarai? :p 10/23/2011 13:50:39 Yth Sadara Jojo (karen.cassilas@gmail.com) jojo 10/27/2011 13:10:18 kalau begitu saya ingin membaca referensi pembuatan dan perpanjangan Driving License negara tempat anda tinggal saat ini :) 10/27/2011 14:03:24 O betul, ternyata Anda Pak Jojo, betul. Di sini pun acara rutinitas itu terjadi. Untuk dapat sim harus ada ujian tulis. Untuk 50 cc cukup ujian tulis, tapi kalau CC nya lebih besar harus ada ujian praktik juga. Tradisi perpanjang juga terjadi di sini. Leave a Reply |
اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
RSS Feed