Merancang sense of progress 07/28/2011
Pendapat pribadiku saat ini, yang "mengganggu" itu otak manusia. Dia (si otak) suka sense of progress, sense of achievement, sense of time, dan sense of space. Sense of progress adalah kesan adanya perbaikan, kemajuan, perkembangan. Dalam hal ini kesan itu bersifat relatif dari kacamata otak. Dia (si otak) suka itu. Permainannya di wilayah itu. Kepemilikan selalu dia pikir untuk terus dan terus ditambah. Kepintaran selalu juga demikian. Juga lain-lain yang terkait dengan perceivable, material things. Outputnya bisa dua, rasa puas dan rasa cemas. Ketika merasa sesuai, dirasakan puas, senang, bangga, tersenyum lebar, bahkan tidak jarang tertawa terbahak-bahak. Diadakan pesta dengan mengundang para kenalan. Dirayakan kesesuaian itu dengan perasaan bangga dan lega. Berhasil mendapatkan gadget terbaru, dia senang, dia eksplorasi dari pagi, siang, sore, malam kembali ke pagi lagi. Berhasil mempunyai mobil mewah baru, dikendarailah dengan rasa bangga, senang, wah ini baru aku. Namun ketika merasa tidak sesuai, terjadilah mekanisma ketidakpuasan, kegundahan, kegalauan, ketidakbisatiduran, kegetiran, kepahitan, bahkan ada yang sampai setres. Ujung-ujungnya, ketidakstabilan terjadi. Masa begini ini bisa singkat bisa pula lama, bahkan ada yang menimbulkan trauma. Ketika sudah merasa yakin, dengan perhitungan cermat, bahwa dengan cara ini dan itu, dia akan berhasil menduduki kursi DPR, uang pun dikeluarkan dalam jumlah banyak untuk menggapai keyakinan itu. Tapi belakangan ternyata gagal mengusung kursi DPR, terjadilah ketidakstabilan. Bahkan ketika sudah mata gelap, untuk menunjukkan sense of sustainable progress dalam mengkonsumsi benda-benda dan "kesenangan" duniawi, orang rela mengorbankan harga dirinya dengan menjalani kehidupan penuh korupsi dan manipulasi. Konon kehidupan ini sudah mentradisi di instansi-instansi, perusahaan-perusahaan, dan lembaga-lembaga kenegaraan dan pemerintahan. Tapi ini konon lho ya. Ingat tidak berita di awal tahun 2011, orang berinisial N yang disuruh lari ke luar negeri gara-gara kasus korupsi dan manipulasi ini. Jaman aku kecil dulu juga pernah ada orang berinisial E. Permainan otak suka menjebak, ya? Padahal kalau tidak usah dipikir, gejolak hormon dan metabolisma tidak perlu yang ditimbulkan dari ketidaksenonohan dalam menjalani hidup sudah jelas berdampak nyata di dunia. Raut muka kan kelihatan seberapa tenang, tegar, dan teguh perjalanan kehidupan seseorang. Tuhan mempahalai orang dalam berbuat tidak berdasarkan hasil akhir berupa outcome duniawi, namun berdasarkan proses menjalani hidup yang benar. Outcome duniawi yang bisa dilihat orang hanyalah berupa efek samping dan tidak usah disikapi secara berlebihan, tapi wajar-wajar dan tenang-tenang saja. Tuhan mempahalai niat baik orang. Namun kalau orang berniat jelek untuk melakukan sesuatu, Tuhan sabar menunggu selama belum dilakukan. Apapun outcome yang terindera, sikapi dan niatilah dengan niat baik dengan "innaa lillaahi wa innaa ilaihi roojiun" dan dengan "alhamdulillaahi robbil aalamiin". Dan segala outcome itu jangan pernah bisa memengaruhi hatimu di hadapan Tuhan. Tetap saja jalanlah terus, terus, dan terus, sampai nanti tiba saatnya kamu menemui batas dunia dengan alam selanjutnya. Semua outcome yang berhasil kamu lewati dan tinggalkan, relakan dan ikhlaskanlah untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kebaikan dan perbaikan umat manusia. CommentsLeave a Reply |
اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
RSS Feed