nurkhamid
 
Sudah diberitahukan kepadaku sejak kecil, kalau orang berbuat baik dijanjikan surga, kalau berbuat jelek dijanjikan ancaman neraka. Kapan? Nanti kalau orang sudah meninggal dan melewati fase pengadilan Tuhan. Berita ini benar adanya, diberitakan oleh Tuhan kepada manusia lewat perantara interface Malaikat Jibril ke Kanjeng Nabi Muhammad SAW. 

Sementara itu ada yang mem-bypass janji surga dan ancaman neraka, terutama kalangan sufi tertentu. Mereka langsung menuju ke besaran ridho Allah. Mereka tidak peduli bakal dinaikkan ke surga ataupun dijebloskan ke neraka, yang penting bagi mereka adalah ridho Allah. Ya, saya kira ini masalah basa-basi atau sopan santun mereka saja di hadapan Tuhan. Ini saya kira lho ya, yang jelas perkiraan saya salah. Dari segi pemberitaan, berita tentang surga dan neraka itu sudah qoth'i kok. Sudah jelas benar adanya, dalil-dalilnya sangat shohih. Sehingga sebenarnya ada persamaan bahasa kok, wong kalau Tuhan ridha ya itu kan surga, tapi kalau Tuhan tidak ridha ya itu kan diwujudkan dalam sebuah kata singkatan, neraka. Keridhoan Tuhan itu surga, ketidakridhoan Tuhan itu neraka.

Sekarang, saya ada usul, bagaimana kalau kita menirukan mekanisme surga dan neraka itu di saat kita masih dalam perjalanan ke sana, masih hidup di alam mayapada, di alam dunia ini?

Perjalanan hidup mirip gelombang, ada pasang ada surut. Kondisi alpa kadang terjadi. Sinyal telah terjadinya kealpaan bisa ditangkap kalau receiver kita masih jalan dan berfungsi. Ketika tertangkap sinyal alpa, bisa dibuat mekanisme neraka, misalnya dalam bentuk denda koin atau "berpuasa". "Berpuasa" di sini bukan berpuasa dalam konsep syar'i, tapi hukuman yang bisa diberlakukan kepada diri oleh diri. Contoh, tidak makan siang, tidak makan malam, dan sebagainya, pokoknya mengurangi jatah kesenangan di satu hari. Contoh lain, untuk satu jenis kealpaan tertentu, dikenakan denda sekian dolar atau satuan mata uang lain. Fungsinya jelas untuk memvisualkan bahwa kealpaan itu menimbulkan ketidakridhoan Tuhan atau mendekatkan diri ke neraka. Di sini ada fungsi / mekanisma pembelajaran langsung dari diri oleh diri dan untuk diri sendiri.

Bagaimana dengan sinyal ketaatan, apakah kita perlu memberikan reward kepada diri sendiri? Ini yang saya kurang tahu karena ketika kita mengevaluasi dalam sehari, terutama di detik-detik sebelum tidur, dan kita merasakan bahwa kita sudah banyak berbuat baik, ada rasa tenteram dan marem pada diri, dan ini sudah merupakan rewards tersendiri yang sulit digantikan oleh materi.  Rasanya di saat itu, Tuhan sedang membalas bayangan surga yang Dia hadirkan di dunia ini di saat-saat kita sedangn mengalami kenaikan ketaatan.
 


Comments




Leave a Reply


nurkhamid