nurkhamid
 
Ketikan berikut ini isinya renungan untuk memperingatkan aku bahwa aku sudah berambut pirang-pirang yang putih. Selengkapnya, sila diklik Read More di bawah ini:
Berpuluh-puluh tahun yang lalu, lahir seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama oleh sang kakek, mbah isman (alm), dengan nama yang bagus. Ibuk. Pak e. Semuanya. Terima kasih banyak.

Sekarang tidak banyak yang aku ketahui apa saja yang telah terjadi di masa-masa bayiku. Kucoba ingat-ingat lebih kerjas lagi, aku belum berhasil. Satu kilatan kejadian yang aku ingat adalah ketika aku dan mas totok bermain-main di ndhadhah lor. Ndhadhah lor adalah sebidang tanah pekarangan yang letaknya sekitar 50 meter di utara rumah kami. Pekarangan panjang sekitar 15 meter lebar 10 meter ini ditumbuhi pohon kelapa. Tidak tahu persis waktu itu bermain apa, tapi tiba-tiba aku kliliben atau kenapa yang menyebabkan aku menangis. Kami pulang ke rumah. Apa yang terjadi selanjutnya aku tidak mau menulis di sini. Dan di kejadian ini, aku sudah tidak dalam masa bayi lagi. 

Kita semua pernah mengalami masa bayi, namun setelah besar dan bisa membaca tulisan ini, tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui sendiri peristiwa apa saja yang pernah terjadi di masa bayi. Pengetahuan tentang peristiwa di masa bayi hanya bisa kita peroleh dari cerita orang-orang dewasa di masa kita bayi. Ini bisa dari bapak, ibuk, saudara, atau tetangga sekitar. 

Dari sini aku jadi teringat salah satu berita dari  Alquran. Alquran adalah buku yang berasal dari Alloh yang disampaikan kepada manusia lewat pintu interface Malaikat Jibril dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kebenaran yang dikandungnya adalah mutlak tidak peduli otak manusia ada yang mengingkarinya. Salah satu berita adalah yang menceritakan tentang diri kita sebelum terlahir menjadi bayi, yakni ketika kita masih menyatu di dalam tubuh ibu kita. Ada salah satu tahapan yakni sebelum ruh ditiupkan ke kita, ruh itu ditanya Tuhan, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" terus si ruh itu menjawab, "Ya, aku menyaksikan." Pemberitaan ini seratus persen benar adanya.

 Namun apa yang terjadi ketika kita sudah beranjak dewasa dan sudah bisa membaca tulisan ini? Kita suka lupa bahwa kita punya Tuhan. Hal ini tercermin dalam perasaan, pikiran, perkataan, dan perbuatan kita sehari-hari. Beberapa perasaan, pikiran, ucapan, dan perbuatan kita kadang tidak mencerminkan bahwa kita punya Tuhan.

Sehingga kalau ingin selamat, tidak ada jeleknya kalau kita menyadari kembali berita gaib yang disampaikan lewat Alquran itu yang sampai kini kita masih bisa membaca sendiri bahwa dulu sebelum ruh ditiupkan ke kita, ruh itu ditanya Tuhan, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" terus si ruh itu menjawab, "Ya, aku menyaksikan." Dan pemberitaan ini seratus persen benar adanya.
 


Comments




Leave a Reply


nurkhamid