<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="weebly" -->
<rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" >

<channel><title><![CDATA[&#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1605; &#1610;&#1575; &#1605;&#1602;&#1604;&#1576; &#1575;&#1604;&#1602;&#1604;&#1608;&#1576; &#1579;&#1576;&#1578; &#1602;&#1604;&#1576;&#1610; &#1593;&#1604;&#1609; &#1583;&#1610;&#1606;&#1603; - Geblag-geBlog ]]></title><link><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/geblag-geblog.html]]></link><description><![CDATA[Geblag-geBlog ]]></description><pubDate>Wed, 23 Nov 2011 10:10:00 +0800</pubDate><generator>Weebly</generator><item><title><![CDATA[Sistem Pengelolaan Waktu: Pomodoro (Tomat, Kitchen Timer, Pewaktu Dapur)]]></title><link><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/08/sistem-pengelolaan-waktu-pomodoro-tomat-kitchen-timer-pewaktu-dapur.html]]></link><comments><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/08/sistem-pengelolaan-waktu-pomodoro-tomat-kitchen-timer-pewaktu-dapur.html#comments]]></comments><pubDate>Sun, 28 Aug 2011 16:15:04 +0800</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/08/sistem-pengelolaan-waktu-pomodoro-tomat-kitchen-timer-pewaktu-dapur.html</guid><description><![CDATA[Tadi malam dari hari ini 8/28, aku mendapatkan web Pomodoro. Kalau penasaran digugle saja, akan ketemu dalam satu klik.&nbsp;Pengelolaan waktu Pomodoro (PWP) intinya adalah penyederhanaan, eliminasi kompleksitas distraktor, interuptor, dengan jalan memecah unit waktu tidak lagi dalam menit atau detik, tapi dalam satuan pomodoro. Lagi-lagi aku merasa, sederhana itu sukses. Kompleksitas gaya hidup orang jaman sekarang me [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; ">Tadi malam dari hari ini 8/28, aku mendapatkan web Pomodoro. Kalau penasaran digugle saja, akan ketemu dalam satu klik.&nbsp;<br /><br />Pengelolaan waktu Pomodoro (PWP) intinya adalah penyederhanaan, eliminasi kompleksitas distraktor, interuptor, dengan jalan memecah unit waktu tidak lagi dalam menit atau detik, tapi dalam satuan pomodoro. Lagi-lagi aku merasa, sederhana itu sukses. Kompleksitas gaya hidup orang jaman sekarang menjadikan berbagai aktivitas yang jaman dulu tidak ada menjadi kebutuhan yang tanpanya (mereka) hidup orang menjadi mati. Contoh aktivitas-aktivitas tambahan (baru) di jaman sekarang yang mungkin sudah menjadi candu sebagian orang misalnya eFBean, imil-imilan, berinternet, ber-SMS, em-em-esan membawa HaPe, mbelekberiyan, ndombong di depan leptop atau lcd, nge-geim, ngetuiter, dan nanti akan masih ada banyak lagi mainan-mainan yang akan dirancang agar orang tersibukkan di dunia ini.<br /><br />Dan lucunya sebagian besar invensi, temuan, orang tersebut sangat menyita dan bisa mencandu dan mengalihkan perhatian orang dari kewajiban pekerjaan-pekerjaan yang lebih penting dan mendesak. Akibatnya penyakit menunda-nunda pekerjaan yang berjatuh tempo sulit dihindari.<br /><br />Pengeloa waktu Pomodoro menyederhanakan dan mengobati penyakit orang yang sudah terlilit kompleksitas dan kecanduan kegiatan-kegiatan tambahan yang jaman dulu tidak ada. Prinsip dari PWP sangat sederhana dan bisa dilakukan oleh setiap orang yang ingin melakukannya. Alat dan bahan yang diperlukan juga mudah didapatkan di sekitar kita. Penjelasan detil dari PWP sila meluncur ke web aselinya.<br /><br />Dari sini lagi-lagi aku melayang kembali ke jaman-jaman dulu, jaman kanjeng nabi, sahabat dan para generasi lama sesudahnya. Betapa mereka sangat kuat dan (anu, aku belum menemukan kata untuk menggabarkan ini) dalam menghargai waktu. Ulama jaman dulu banyak yang menghasilkan karya tulis dengan jumlah lembar halaman yang sangat banyak. (Sampai di sini aku perlu data nama-nama ulama jaman dulu beserta karyanya beserta jumlah lembar halamannya.) Padahal teknologi pada waktu itu jauh lebih sederhana dibandingkan dengan teknologi pada jaman sekarang. &nbsp;Pada waktu itu mungkin belum ada listrik, belum ada pesawat komputer, belum ada pesawat hanpon, belum ada ... banyak lah perbedaannya bila dibandingkan dengan kondisi jaman sekarang. Tapi apa yang mereka hasilkan. Luar biasa. Mereka sungguh luar biasa produktif.&nbsp;<br /><br />Tapi aku, bagaimana dengan aku yang sudah terfasilitasi dengan seabreg fasilitas, sejauh mana produktivitasku? He he he, akhirnya aku jadi tersipu malu sendiri. Oh, maluku. Ampuni aku ya Tuhan. Semoga aku juga bisa meniru mereka.</div>  ]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Simple is Successful]]></title><link><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/08/simple-is-successful.html]]></link><comments><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/08/simple-is-successful.html#comments]]></comments><pubDate>Wed, 03 Aug 2011 00:07:49 +0800</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/08/simple-is-successful.html</guid><description><![CDATA[Kompleksitas hidup dewasa ini umumnya disebabkan oleh ulah orang itu sendiri. Berencana rinci sekali sampai jangka puluhan tahun ke depan, sementara orang tidak tahu kapan dia dipanggil menghadap. Orang berusaha menghindari rutinitas dengan merencanakan acara refreshing ke luar negeri, ke gunung, ke pantai, ke tempat-tempat baru yang konon biar tidak jenuh.       [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; ">Kompleksitas hidup dewasa ini umumnya disebabkan oleh ulah orang itu sendiri. Berencana rinci sekali sampai jangka puluhan tahun ke depan, sementara orang tidak tahu kapan dia dipanggil menghadap. Orang berusaha menghindari rutinitas dengan merencanakan acara refreshing ke luar negeri, ke gunung, ke pantai, ke tempat-tempat baru yang konon biar tidak jenuh.<br /></div>  <div >  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; "><br /><span>Padahal ritme default orang hidup adalah siklikal. Tidur bangun tidur bangun, dst. Makan, berak, makan, berak, dsb. Minum, pipis, minum, pipis, dsb. Rutinitas adalah default orang hidup. Rutinitas itu sederhana. </span><br /><br /><span>Rutinitas menjadi indah dan sederhana. Kesederhanaan itu kesuksesan. Mengambil secukupnya saja. Makan secukupnya saja. Membeli secukupnya saja. Membawa secukupnya saja. Tidak berlebihan. Simpel, sederhana. Namun kebanyakan kita lupa, merasa seakan kita kekal abadi di sini sehingga rela mengorbankan harga diri untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya beban, kalau perlu agar bisa dibebankan sampai tujuh puluh keturunan mendatang.</span><br /><br /><span></span>Senangnya kalau aku mendengar pak ustadz bercerita tentang kisah kehidupan kanjeng nabi atau para sahabat dan orang-orang alim jaman dulu. Mereka begitu sederhana dan bekehidupan fokus. Mereka punya fokus yang jelas. Perjalanan hidup mereka amat sederhana, namun memberi bekas pelajaran mendalam bagi orang-orang setelah mereka. Cerita ini kontras betul dengan hiruk pikuk orang-orang masa kini. Setiap saat selalu ada saja yang direpotkan dan dipersoalkan padahal kalau dilihat dari kacamata orang-orang jaman dulu, kerepotan mereka dan masalah mereka adalah hampir sebagian besar adalah akibat ulah mereka sendiri.<br /></div>  ]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Merancang sense of progress]]></title><link><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/merancang-sense-of-progress.html]]></link><comments><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/merancang-sense-of-progress.html#comments]]></comments><pubDate>Thu, 28 Jul 2011 16:14:27 +0800</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/merancang-sense-of-progress.html</guid><description><![CDATA[Pendapat pribadiku saat ini, yang "mengganggu" itu otak manusia. Dia (si otak) suka sense of progress, sense of achievement, sense of time, dan sense of space.       Sense of progress adalah kesan adanya perbaikan, kemajuan, perkembangan. Dalam hal ini kesan itu bersifat relatif dari kacamata otak. Dia (si otak) suka  [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; ">Pendapat pribadiku saat ini, yang "mengganggu" itu otak manusia. Dia (si otak) suka sense of progress, sense of achievement, sense of time, dan sense of space. <br /></div>  <div >  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; ">Sense of progress adalah kesan adanya perbaikan, kemajuan, perkembangan. Dalam hal ini kesan itu bersifat relatif dari kacamata otak. Dia (si otak) suka itu. Permainannya di wilayah itu. Kepemilikan selalu dia pikir untuk terus dan terus ditambah. Kepintaran selalu juga demikian. Juga lain-lain yang terkait dengan perceivable, material things. Outputnya bisa dua, rasa puas dan rasa cemas.<br><br><span>Ketika merasa sesuai, dirasakan puas, senang, bangga, tersenyum lebar, bahkan tidak jarang tertawa terbahak-bahak. Diadakan pesta dengan mengundang para kenalan. Dirayakan kesesuaian itu dengan perasaan bangga dan lega. </span>Berhasil mendapatkan gadget terbaru, dia senang, dia eksplorasi dari pagi, siang, sore, malam kembali ke pagi lagi. Berhasil mempunyai mobil mewah baru, dikendarailah dengan rasa bangga, senang, wah ini baru aku.<br><br><span>Namun ketika merasa tidak sesuai, terjadilah mekanisma ketidakpuasan, kegundahan, kegalauan, ketidakbisatiduran, kegetiran, kepahitan, bahkan ada yang sampai setres. Ujung-ujungnya, ketidakstabilan terjadi. Masa begini ini bisa singkat bisa pula lama, bahkan ada yang menimbulkan trauma. Ketika sudah merasa yakin, dengan perhitungan cermat, bahwa dengan cara ini dan itu, dia akan berhasil menduduki kursi DPR,&nbsp; </span>uang pun dikeluarkan dalam jumlah banyak untuk menggapai keyakinan itu. Tapi belakangan ternyata gagal mengusung kursi DPR, terjadilah ketidakstabilan.<br><br><span>Bahkan ketika sudah mata gelap, untuk menunjukkan sense of sustainable progress dalam mengkonsumsi benda-benda dan "kesenangan" duniawi, orang rela mengorbankan harga dirinya dengan menjalani kehidupan penuh korupsi dan manipulasi. Konon kehidupan ini sudah mentradisi di instansi-instansi, perusahaan-perusahaan, dan lembaga-lembaga kenegaraan dan pemerintahan. Tapi ini konon lho ya. Ingat tidak berita di awal tahun 2011, orang berinisial N yang disuruh lari ke luar negeri gara-gara kasus korupsi dan manipulasi ini. Jaman aku kecil dulu juga pernah ada orang berinisial E.</span><br><br><span>Permainan otak suka menjebak, ya? Padahal kalau tidak usah dipikir, gejolak hormon dan metabolisma tidak perlu yang ditimbulkan dari ketidaksenonohan dalam menjalani hidup sudah jelas berdampak nyata di dunia. Raut muka kan kelihatan seberapa tenang, tegar, dan teguh perjalanan kehidupan seseorang.</span> Tuhan mempahalai orang dalam berbuat tidak berdasarkan hasil akhir berupa outcome duniawi, namun berdasarkan proses menjalani hidup yang benar. Outcome duniawi yang bisa dilihat orang hanyalah berupa efek samping dan tidak usah disikapi secara berlebihan, tapi wajar-wajar dan tenang-tenang saja. Tuhan mempahalai niat baik orang. Namun kalau orang berniat jelek untuk melakukan sesuatu, Tuhan sabar menunggu selama belum dilakukan.<br><br><span>Apapun outcome yang terindera, sikapi dan niatilah dengan niat baik dengan "innaa lillaahi wa innaa ilaihi roojiun"</span> dan dengan "alhamdulillaahi robbil aalamiin". Dan segala outcome itu jangan pernah bisa memengaruhi hatimu di hadapan Tuhan. Tetap saja jalanlah terus, terus, dan terus, sampai nanti tiba saatnya kamu menemui batas dunia dengan alam selanjutnya. Semua outcome yang berhasil kamu lewati dan tinggalkan, relakan dan ikhlaskanlah untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kebaikan dan perbaikan umat manusia.<br></div>  ]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Rutinitas memperpanjang Surat Ijin Mengemudi SIM di SIM Corner Ambarukmo Plaza Yogyakarta]]></title><link><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/rutinitas-memperpanjang-surat-ijin-mengemudi-sim-di-sim-corner-ambarukmo-plaza.html]]></link><comments><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/rutinitas-memperpanjang-surat-ijin-mengemudi-sim-di-sim-corner-ambarukmo-plaza.html#comments]]></comments><pubDate>Wed, 27 Jul 2011 02:21:15 +0800</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/rutinitas-memperpanjang-surat-ijin-mengemudi-sim-di-sim-corner-ambarukmo-plaza.html</guid><description><![CDATA[Kami datang dan tiba di sana tepat pukul 12 siang. Begitu sampai di  depan stand gerai sim corner polri di Ambarukmo Plaza Lantai dua (2nd  floor, kalau tidak tahu tanya saja ke Pak Satpam) Jalan Laksda  Adisucipto Jogja Yogyakarta, kami tidak tahu apa yang harus kami  lakukan, dan kami hanya melihat tulisan jam istirahat 12-13. Sehingga  kami undur dari gerai untuk ke lantai paling atas, masjid, untuk shalat  dhzuhur. Selesai sal [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; ">Kami datang dan tiba di sana tepat pukul 12 siang. Begitu sampai di  depan stand gerai sim corner polri di Ambarukmo Plaza Lantai dua (2nd  floor, kalau tidak tahu tanya saja ke Pak Satpam) Jalan Laksda  Adisucipto Jogja Yogyakarta, kami tidak tahu apa yang harus kami  lakukan, dan kami hanya melihat tulisan jam istirahat 12-13. Sehingga  kami undur dari gerai untuk ke lantai paling atas, masjid, untuk shalat  dhzuhur. Selesai salat kami makan frech fraiz (baca, kentang goreng).  Selesai sekitar jam 12.40, kami kembali ke sim corner. Kami lihat di  sana sudah bergerombol orang pada mengantri.</div>  <div >  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; "><br /><br /><span>Lagi-lagi kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Jam 13 lebih sedikit para petugas pada berdatangan. Jam 13.15 kami masih belum tahu apa yang harus kami lakukan. Penasaran, kami bertanya kepada salah seorang polwan. DIa jawab agar kami mengantrikan fotokopi ktp dan sim lama di sebuah baki, sisi sebelah kiri kalau kita menghadap ke stand sim tersebut. Walah rek, baru tahu kalau harus mengantrikan fotokopi di sana. Sampai di baki ternyata memang sudah ada tumpukan antrian fotokopi. Kok kami tahunya tidak tadi-tadi ya, waktu kami datang jam 12 siang tadi. Kalau saja kami tahu, tentu antrian kami tidak belakang-belakang.</span><br /><br /><span>Selesai itu seorang petugas memanggili pengantri berdasarkan mekanisma LIFO; bukan LIFO tapi FIFO (First In First Out). Kami akhirnya dipanggil oleh Bu Polwan, yang kelihatannya lagi hamil. Sampai di situ kami diberi map dan secarik formulir. Berkas kami bawa meminggir untuk kami isi, lalu berkas itu kami antrikan di tempat periksa kesehataan. Beberapa saat kemudian kami dipanggil, kami ditensi dan dibobot (dikiloi, timbang) oleh seorang mbak perawat apa ya.</span> Antri lagi untuk periksa dokter.<br /><br /><span>Selesai itu kami dipanggi lagi </span>lalu masuk ke sebuah bilik bu dokter. Di bilik, bu dokter sudah siap dengan huruf-huruf cicak, ada sekitar 6 apa 8, lupa, yang dalam urutan makin lama makin sulit. Selesai dikasih teka-teki huruf cicak, kami dimintai uang 30ribu rupiah, untuk ongkos periksa kesihatan kali.<br /><br /><span>Selesai itu, berkas kami bawa ke bilik BRI di situ juga untuk membayar ongkos pembuatan SIM apa ya., sebesar 75ribu rupiah.</span> Kami dapat kuitansi dan nomor antrian 116. Semua berkas ini, termasuk SIM lama kami masukkan ke dalam sebuah map yang dia pinjamkan tadi waktu pembagian formulir. Selesai itu berkas kami antrikan ke bagian pencatatan. Waktu tunggu terlama adalah menunggu pemotretan. Kami harus menunggu 40 an orang.<br /><br /><span>Masuk di bilik potret, biasa Mas Polisi membacakan data kami, dari nama, alamat, dsb. Kalau ada yang salah, harap protes di sini, biar sim kita nanti benar. Pertama, tanda tangan di kotak. Awas, tandatangannya harus dibuat sebesar-besarnya asalkan tetap berada di dalam kotak yang sudah disediakan. Soalnya, punya kami kekecilan, karena tidak tahu kalau begini. Selesai tanda tangan, pindai sidik jari jempol kanan, lalu diambil gambar. </span><br /><br /><span>Keluar lagi menunggu sejenak, SIM sudah bisa diambil di bilik sebelah, sambil mencatatkan diri di buku pengambilan SIM. Total waktu adalah sekitar dua jam, yakni dari jam 1 siang sampai jam 3 sore.</span><br /><br /><span>Berbicara soal ongkos, bagi kami lumayan murah wong cuma 75 ribu untuk jasa pembuatan SIM dan 30 ribu untuk jasa periksa buta huruf oleh dokter dan timbang dan tekanan darah oleh juru rawat.</span><span></span> Kami tidak tahu kalau bagi penduduk pada umumnya. Hanya saja kami ketawa-ketawa sendiri, kami merasa bahwa tradisi seperti ini adalah tradisi yang bisa saja disepakati untuk tidak diselenggarakan. Wong cuma naik sepeda motor saja kok ndadak harus pakai SIM C yang setiap lima tahun sekali harus diperpanjang.<br /><br /><span>Tapi lagi-lagi ya, kalau dipikir-pikir ya biar ada polisi lah, biar ada mekanisme legal dan halal untuk proses pemberian sumbangan uang dari masyarakat kepada para polisi dan dokter/perawat. Lha kalau dipikir agak medalam, intinya kan cuma main-main itu. Wong cuma dikasih tebak-tebakan baca huruf cicak kok ditarik uang 30ribu rupiah. Juga untuk yang 75 ribu itu. Yang jelas, biar berpahala, diniati saja uang tersebut untuk sedekah kepada polisi dan dokter/perawat. Bagaimanapun juga, mereka adalah bagian dari kita yang memerlukan perhatian dan bantuan dari kita semua. </span>Tapi nanti kalau jaman sudah canggih, mungkin saja upacara semacam ini sudah tidak diperlukan lagi dan sudah dianggap upacara yang primitif.<br /></div>  ]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Memodelkan surga dan neraka di diri pribadi]]></title><link><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/memodelkan-surga-dan-neraka-di-diri-pribadi.html]]></link><comments><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/memodelkan-surga-dan-neraka-di-diri-pribadi.html#comments]]></comments><pubDate>Fri, 22 Jul 2011 13:29:37 +0800</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/memodelkan-surga-dan-neraka-di-diri-pribadi.html</guid><description><![CDATA[Sudah diberitahukan kepadaku sejak kecil, kalau orang berbuat baik dijanjikan surga, kalau berbuat jelek dijanjikan ancaman neraka. Kapan? Nanti kalau orang sudah meninggal dan melewati fase pengadilan Tuhan. Berita ini benar adanya, diberitakan oleh Tuhan kepada manusia lewat perantara interface Malaikat Jibril ke Kanjeng Nabi Muhammad SAW.&nbsp;       [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; ">Sudah diberitahukan kepadaku sejak kecil, kalau orang berbuat baik dijanjikan surga, kalau berbuat jelek dijanjikan ancaman neraka. Kapan? Nanti kalau orang sudah meninggal dan melewati fase pengadilan Tuhan. Berita ini benar adanya, diberitakan oleh Tuhan kepada manusia lewat perantara interface Malaikat Jibril ke Kanjeng Nabi Muhammad SAW.&nbsp;<br /></div>  <div >  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; "><br />Sementara itu ada yang mem-bypass janji surga dan ancaman neraka, terutama kalangan sufi tertentu. Mereka langsung menuju ke besaran ridho Allah. Mereka tidak peduli bakal dinaikkan ke surga ataupun dijebloskan ke neraka, yang penting bagi mereka adalah ridho Allah. Ya, saya kira ini masalah basa-basi atau sopan santun mereka saja di hadapan Tuhan. Ini saya kira lho ya, yang jelas perkiraan saya salah. Dari segi pemberitaan, berita tentang surga dan neraka itu sudah qoth'i kok. Sudah jelas benar adanya, dalil-dalilnya sangat shohih. Sehingga sebenarnya ada persamaan bahasa kok, wong kalau Tuhan ridha ya itu kan surga, tapi kalau Tuhan tidak ridha ya itu kan diwujudkan dalam sebuah kata singkatan, neraka. Keridhoan Tuhan itu surga, ketidakridhoan Tuhan itu neraka.<br /><br />Sekarang, saya ada usul, bagaimana kalau kita menirukan mekanisme surga dan neraka itu di saat kita masih dalam perjalanan ke sana, masih hidup di alam mayapada, di alam dunia ini?<br /><br />Perjalanan hidup mirip gelombang, ada pasang ada surut. Kondisi alpa kadang terjadi. Sinyal telah terjadinya kealpaan bisa ditangkap kalau receiver kita masih jalan dan berfungsi. Ketika tertangkap sinyal alpa, bisa dibuat mekanisme neraka, misalnya dalam bentuk denda koin atau "berpuasa". "Berpuasa" di sini bukan berpuasa dalam konsep syar'i, tapi hukuman yang bisa diberlakukan kepada diri oleh diri. Contoh, tidak makan siang, tidak makan malam, dan sebagainya, pokoknya mengurangi jatah kesenangan di satu hari. Contoh lain, untuk satu jenis kealpaan tertentu, dikenakan denda sekian dolar atau satuan mata uang lain. Fungsinya jelas untuk memvisualkan bahwa kealpaan itu menimbulkan ketidakridhoan Tuhan atau mendekatkan diri ke neraka. Di sini ada fungsi / mekanisma pembelajaran langsung dari diri oleh diri dan untuk diri sendiri.<br /><br />Bagaimana dengan sinyal ketaatan, apakah kita perlu memberikan reward kepada diri sendiri? Ini yang saya kurang tahu karena ketika kita mengevaluasi dalam sehari, terutama di detik-detik sebelum tidur, dan kita merasakan bahwa kita sudah banyak berbuat baik, ada rasa tenteram dan marem pada diri, dan ini sudah merupakan rewards tersendiri yang sulit digantikan oleh materi. &nbsp;Rasanya di saat itu, Tuhan sedang membalas bayangan surga yang Dia hadirkan di dunia ini di saat-saat kita sedangn mengalami kenaikan ketaatan.</div>  ]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Sukses dengan Sederhana]]></title><link><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/sukses-dengan-sederhana.html]]></link><comments><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/sukses-dengan-sederhana.html#comments]]></comments><pubDate>Thu, 21 Jul 2011 06:22:34 +0800</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/sukses-dengan-sederhana.html</guid><description><![CDATA[Sukses dengan sederhana. Kalimat ini sederhana. Di dalamnya terkandung  efisiensi. Pengertian sederhana sukses adalah tercapainya tujuan atau  sasaran. Efisiensi terkait dengan pemanfaatan sumber daya secara  maksimal, &nbsp;tanpa pemborosan atau penyia-nyiaan. Sumber daya itu mencakup  diri pribadi, lingkungan, dan waktu.        [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; ">Sukses dengan sederhana. Kalimat ini sederhana. Di dalamnya terkandung  efisiensi. Pengertian sederhana sukses adalah tercapainya tujuan atau  sasaran. Efisiensi terkait dengan pemanfaatan sumber daya secara  maksimal, &nbsp;tanpa pemborosan atau penyia-nyiaan. Sumber daya itu mencakup  diri pribadi, lingkungan, dan waktu. </div>  <div >  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; "><br /><span></span>Diri pribadi bisa bekerja dengan efisien kalau landasan perasaan, pikiran, dan perbuatan adalah landasan yang benar. Di sin lagi-lagi peran agama menjadi vital. &nbsp;Kalau semuanya dilandaskan dan disandarkan kepada agama, ujung-ujungnya akan selalu mencapai sukses, yakni keridhoan Tuhan. Hal ini karena Tuhan tidak mengutamakan hasil temporer tapi menekankan proses yang benar. Proses yang benar tentu adalah proses yang dilandaskan pada ajaran agama. Dan Tuhan selalu menghargai dan memperhitungkan proses yang BENAR, dan tidak terlalu mempedulikan hasil akhir.<br /><br />Yang terjadi selama ini, barangkali karena agama sudah tidak lagi begitu dihiraukan, adalah kehidupan yang tampak <em>mbulet-mbulet</em>&nbsp; dan sangat tidak efisien. Akibatnya pencapaian-pencapaian yang terlihat adalah hanya sebatas pencapaian duniawi yang kadang malahan menimbulkan berbagai ketegangan, efek samping, dan perkara di sana sini.&nbsp;<br /><br />Dalam hal lingkungan, orang mengambil dari lingkungan untuk mencapai sukses tidak usah <em>nggragas-ngragas</em>, cukup secukupnya dan seperlunya saja. Kenggragasan orang selama ini bahkan sampai menabrak aturan agama, seperti berhutang dengan sistem riba untuk memperbesar modal dan modal utangan itu untuk kemudian diputar agar hasilnya semakin membesar dan membesar. Akibatnya muncul kalangan minoritas orang super kaya yang secara langsung atau tidak langsung mereka bermain dan relatif menindas sehingga kesempatan berusaha menjadi semakin sulit dan terbatas bagi kalangan manusia pada umumnya.<br /><br />Dalam hal waktu, orang diminta agar waktunya bisa berkah baik di dunia maupun di akhirat kelak. Selama ini banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sudah terlena dengan perbuatan-perbuatan sia-sia yang menghabiskan waktu tanpa memikirkan prioritas perbuatan. Harusnya ada perbuatan-perbuatan tertentu yang diberi prioritas lebih tinggi dibanding yang lain. Perbuatan-perbuatan yang tidak berguna tidak usah dikerjakan sama sekali saja karena tindakan ini membuat alur hidup tidak lagi sederhana.</div>  ]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Weekly Gathering di Basement Dorm B5]]></title><link><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/weekly-gathering-di-basement-dorm-b5.html]]></link><comments><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/weekly-gathering-di-basement-dorm-b5.html#comments]]></comments><pubDate>Fri, 08 Jul 2011 02:02:11 +0800</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/weekly-gathering-di-basement-dorm-b5.html</guid><description><![CDATA[Acara rutin kali ini sudah berjalan sekitar 8 kalian. Weekly Gathering dimulai dengan makan bareng, nderes Alquran satu ruku' per orang, dan diakhiri dengan kultum. Tadi ditampilkan guest speaker dari Mesir. Dikenalkan di presentasinya dengan bantuan laptop dan sebuah tivi layar datar tentang riwayat Mesir.Mesir bagus lah, mempunyai akar peradaban tinggi, tanahnya subur, masyarakat memadat di tepian sungai Nil.&nbsp; [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; ">Acara rutin kali ini sudah berjalan sekitar 8 kalian. Weekly Gathering dimulai dengan makan bareng, nderes Alquran satu ruku' per orang, dan diakhiri dengan kultum. Tadi ditampilkan guest speaker dari Mesir. Dikenalkan di presentasinya dengan bantuan laptop dan sebuah tivi layar datar tentang riwayat Mesir.<br /><br />Mesir bagus lah, mempunyai akar peradaban tinggi, tanahnya subur, masyarakat memadat di tepian sungai Nil.&nbsp;<br /><br /></div>  <div >  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; ">Yang paling berkesan adalah cerita Gaber Faisal tentang praktik keberadaban masyarakatnya akhir-akhir ini pasca revolusi. Selama mengalami kevakuman pemerintahan, parlemen, dan keamanan dalam waktu empat bulan, masyarakat bisa menjaga ketenteraman, keamanan, dan ketertiban umum. Tidak ada huru-hara, kriminalitas, dan pelanggaran ketertiban umum selama masa vakum pemerintahan sehabis revolusi di awal tahun 2011 ini.<br /><br />Dia menyimpulkan, kondisi tersebut merupakan bukti keberadapan masyarakat Mesir yang memang mempunyai kedewasaan dan kematangan peradaban yang sudah sangat lama.&nbsp;<br /><br />Saya jadi teringat dengan kekacauan dan huru-hara dalam konteks peristiwa mirip yang pernah terjadi di Indonesia. Saya ingat, waktu itu banyak terjadi pembakaran rumah-rumah penduduk dan perampokan massal di beberapa kota besar. Betapa masyarakat kita (Indonesia) ternyata mempunyai tradisi peradaban anarkis dan sulit mengendalikan diri terhadap hawa nafsu harta benda. Cerita PMP waktu SD yang mengatakan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang ramah tamah suka gotong royong dsb, hanya menjadi cerita kosong tanpa bukti nyata ketika saya mengenang kembali noda sejarah amuk massa dan ketidaksenonohan massal waktu itu.<br /><br />Saya jadi pilu juga ketika menyaksikan kondisi bangsa akhir-akhir ini yang saya rasakan sebagian besar mereka hanya bermain-main untuk memperebutkan harta benda. Mereka hanya ingin berebut uang. Mereka hanya ingin berebut kesenangan dunia, tanpa ada rasa takut sedikitpun bahwa perbuatan mereka di dunia ini harus dipertanggungjawabkan di hari nanti. Misalnya, dari berita aku dengar ada seseorang mendapat uang banyak, lalu menggondol uang itu, lalu diperkarakan, lalu melarikan diri, lalu ada pihak yang mengejar-ngejar. Ya, ini kan cerita tentang perebutan uang. Dan modus seperti ini selalu saja berulang-ulang diceritakan di media.<br /><br />Mudah-mudahan kelompok yang semacam itu tidak mempunyai "keturunan" yang melanjutkan perbuatan tidak senonoh mereka. Mudah-mudahan kalau mereka masih juga tidak mau sadar, mereka segera tua dan secara alamiah binasa, lalu digantikan oleh generasi baru yang masih virgin kalis dari virus-virus yang mereka sebarkan. Mereka lenyap dengan sendirinya tanpa diperangi, ditelan oleh sejarah dan waktu, digantikan oleh generasi baru muda yang masih segar dan terbebas dari virus-virus mereka.<br /></div>  ]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Kamis Tujuh Juli Dua Ribu Sebelas: Bukankah Aku ini Tuhanmu?]]></title><link><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/kamis-tujuh-juli-dua-ribu-sebelas-bukankah-aku-ini-tuhanmu.html]]></link><comments><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/kamis-tujuh-juli-dua-ribu-sebelas-bukankah-aku-ini-tuhanmu.html#comments]]></comments><pubDate>Thu, 07 Jul 2011 16:19:06 +0800</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/kamis-tujuh-juli-dua-ribu-sebelas-bukankah-aku-ini-tuhanmu.html</guid><description><![CDATA[Ketikan berikut ini isinya renungan untuk memperingatkan aku bahwa aku sudah berambut pirang-pirang yang putih. Selengkapnya, sila diklik Read More di bawah ini:      Berpuluh-puluh tahun yang lalu, lahir seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama oleh sang kakek, mbah isman (alm), dengan nama yang bagus. Ibuk. Pa [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; ">Ketikan berikut ini isinya renungan untuk memperingatkan aku bahwa aku sudah berambut pirang-pirang yang putih. Selengkapnya, sila diklik Read More di bawah ini:<br /></div>  <div >  <!--BLOG_SUMMARY_END--></div>  <div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; ">Berpuluh-puluh tahun yang lalu, lahir seorang bayi laki-laki yang kemudian diberi nama oleh sang kakek, mbah isman (alm), dengan nama yang bagus. Ibuk. Pak e. Semuanya. Terima kasih banyak.<br /><br />Sekarang tidak banyak yang aku ketahui apa saja yang telah terjadi di masa-masa bayiku. Kucoba ingat-ingat lebih kerjas lagi, aku belum berhasil. Satu kilatan kejadian yang aku ingat adalah ketika aku dan mas totok bermain-main di ndhadhah lor. Ndhadhah lor adalah sebidang tanah pekarangan yang letaknya sekitar 50 meter di utara rumah kami. Pekarangan panjang sekitar 15 meter lebar 10 meter ini ditumbuhi pohon kelapa. Tidak tahu persis waktu itu bermain apa, tapi tiba-tiba aku kliliben atau kenapa yang menyebabkan aku menangis. Kami pulang ke rumah. Apa yang terjadi selanjutnya aku tidak mau menulis di sini.&nbsp;Dan di kejadian ini, aku sudah tidak dalam masa bayi lagi.&nbsp;<br /><br />Kita semua pernah mengalami masa bayi, namun setelah besar dan bisa membaca tulisan ini, tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui sendiri peristiwa apa saja yang pernah terjadi di masa bayi. Pengetahuan tentang peristiwa di masa bayi hanya bisa kita peroleh dari cerita orang-orang dewasa di masa kita bayi. Ini bisa dari bapak, ibuk, saudara, atau tetangga sekitar.&nbsp;<br /><br />Dari sini aku jadi teringat salah satu berita dari &nbsp;Alquran. Alquran adalah buku yang berasal dari Alloh yang disampaikan kepada manusia lewat pintu interface Malaikat Jibril dan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Kebenaran yang dikandungnya adalah mutlak tidak peduli otak manusia ada yang mengingkarinya. Salah satu berita adalah yang menceritakan tentang diri kita sebelum terlahir menjadi bayi, yakni ketika kita masih menyatu di dalam tubuh ibu kita. Ada salah satu tahapan yakni sebelum ruh ditiupkan ke kita, ruh itu ditanya Tuhan, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" terus si ruh itu menjawab, "Ya, aku menyaksikan." Pemberitaan ini seratus persen benar adanya.<br /><br />&nbsp;Namun apa yang terjadi ketika kita sudah beranjak dewasa dan sudah bisa membaca tulisan ini? Kita suka lupa bahwa kita punya Tuhan. Hal ini tercermin dalam <em>perasaan</em>, <em>pikiran</em>, <em>perkataan</em>, dan <em>perbuatan</em> kita sehari-hari. Beberapa perasaan, pikiran, ucapan, dan perbuatan kita kadang tidak mencerminkan bahwa kita punya Tuhan.<br /><br />Sehingga kalau ingin selamat, tidak ada jeleknya kalau kita menyadari kembali berita gaib yang disampaikan lewat Alquran itu yang sampai kini kita masih bisa membaca sendiri bahwa dulu&nbsp;sebelum ruh ditiupkan ke kita, ruh itu ditanya Tuhan, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" terus si ruh itu menjawab, "Ya, aku menyaksikan." Dan pemberitaan ini seratus persen benar adanya.</div>  ]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Geblag-geBlog: ngeblog pertama]]></title><link><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/first-post.html]]></link><comments><![CDATA[http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/first-post.html#comments]]></comments><pubDate>Thu, 07 Jul 2011 00:58:37 +0800</pubDate><category><![CDATA[Uncategorized]]></category><guid isPermaLink="false">http://www.nurkhamid.com/1/post/2011/07/first-post.html</guid><description><![CDATA[Ini tadi dibuat bulan Juli tanggal 6, tapi menembus tanggal 7. Aselinya sih Juni. Apapun bulannya, 43 tahun yang lalu adalah perjalanan panjang yang lumayan lama. Saat ini bertepatan dengan akhir tahun ke 3 dari masa pencarian gelarmu yang ke tiga. Sengaja atau tidak, sebenarnya dulu kamu pernah menulis sendiri bahwa waktu itu kau tulis bahwa suatu saat nanti kamu akan pergi ke suatu tempat.Dan ternyata suatu tempat it [...] ]]></description><content:encoded><![CDATA[<div  class="paragraph editable-text" style=" text-align: left; ">Ini tadi dibuat bulan Juli tanggal 6, tapi menembus tanggal 7. Aselinya sih Juni. Apapun bulannya, 43 tahun yang lalu adalah perjalanan panjang yang lumayan lama. Saat ini bertepatan dengan akhir tahun ke 3 dari masa pencarian gelarmu yang ke tiga. Sengaja atau tidak, sebenarnya dulu kamu pernah menulis sendiri bahwa waktu itu kau tulis bahwa suatu saat nanti kamu akan pergi ke suatu tempat.<br /><br />Dan ternyata suatu tempat itu adalah Taiwan. Hehehe.... Taiwan .... Hahaha.<br /><br /></div>  ]]></content:encoded></item></channel></rss>

